Suatu pagi di beranda…

July 24, 2008 § 5 Comments

hujan turun diawali dengan gerimis dan disambung dengan yang deras. mengingatkan saya akan tanah air yg kalau sedang musim hujan, selalu becek dimana2. saya pandang halaman muka rumah kami yang hijau, berharap mudah2an tidak berlumpur karena hujan yang abadi. tanaman yang dengan susah payah saya semai tempo hari sudah terlihat terendam air dan tanah gembur yang saya pagari jadi kotor mengotori pagarnya. seumur hidup baru kali ini mencoba berkebun, mengikuti segala aturan yang tertera pada bungkus bibit2 yang saya beli, yang mewajibkan saya menggali lubang disetiap jarak tertentu, lalu ditutup dengan makanan dan tanah berpupuk yang katanya sudah dilembabkan. whatsoever. yang penting, saya sudah melakukan apa saja yang semestinya dilakukan. tapi kalau hujan turun terus tiap hari begini, jangan2 nanti bunga peliharaan saya yg baru keliatan tunas2 daunnya bakalan mati kelelep. ah..biarlah alam yang mengatur semuanya. Tuhan menciptakan mahluknya bukan dari robot atau plastik. kalaupun harus mati, pasti bisa dimanfaatkan oleh yang memerlukan. rantai kehidupan pasti melakukan tugasnya dengan harmonis tanpa harus dibantu dengan tangan manusia.

kalau hujan tidak terlalu lebat, saya biarkan anak2 main diluar dengan payung2 favorit mereka. kasihan, selama ini terkungkung di apartement dimana tidak bisa membiarkan mereka lepas di halaman. mengingat2 masa kecil saya dulu yang kalau hujan turun malah sengaja membasahi diri dan bermain hujan2an dengan anak2 tetangga. segerrrrrr. justru kalau dimarahi, makin menjadi2 diulangi kesalahan yang sama. coba lihat anak2 sekarang, yang lebih senang berdiam diri di depan playstation atau wii, sambil adu jotos atau main tenis dengan sebuah mesin. mana ada anak masakini yang berhamburan main keluar disaat hujan atau liburan sekolah? mana ada anak jaman edan yang masih edan? mereka pun sudah lupa tradisi leluhur main galasin, benteng, congklak, kelereng, bola gebok, karet atau hopscotch. semua bisa dikerjakan tanpa membuang tenaga dan energi, cukup duduk didepan internet atau playstation dan voila…..sebut saja mau main apa, semua ada.

sudah pupus harapan kami untuk mengulang masa2 indah jaman baheula, karena anak2 kami terlahir dikala dunia sudah canggih. walaupun kami sudah lama bermimpi membeli rumah yang punya halaman luas, tapi tetap bayangan indah masa lalu harus di delete dari komputer di kepala saya. rasanya mustahil. tapi saya tidak menyerah begitu saja. walaupun anak2 tetap up to date dengan perkembangan komputerisasi, dan tetap mengikuti gaya atau trend yang selalu berubah2 setiap musimnya, tapi gaya bermain tradisional tetap berjalan. alhamdulillah, rumah yang kami beli ini, walaupu mungil kecil nyempil tua jelek dan berada di pelosok kota (ndeso dot net), warga di kompleks hunian ini masih doyan bertetangga. dari hari pertama kami boyongan, sudah nampak anak2 singkong yang berduyun2 datang kerumah, dan mengajak anak2 saya bermain diluar. mereka orang2 pinggiran masih senang main di alam terbuka, main monopoli pun sambil duduk di halaman depan sampai berjam2. mereka yang kebanyakkan bule2 berambut pirang, sangat ramah, cukup sopan dan punya tata krama, walaupun istilahnya bukan orang kota yang katanya lebih berpendidikan dan menjunjung tinggi sopan santun. anak2 saya yang haus akan teman, sangat bersyukur dan tidak bosan2nya berterimakasih kepada kami berdua, karena sudah menemukan “the best house ever”. mengharukan? tentu saja. rumah tambal sulam begini dibilang the best.

beberapa hari belakangan, anak2 tetangga jarang datang. banyak yang dititipkan ke saudara atau kerabatnya diluar kota karena bapak-ibunya bekerja. termasuk teman sebaya ais depan rumah si L dan S, tau2 mereka sekeluarga menghilang tanpa pesan. namanya liburan sekolah, pasti mereka punya rencana masing2. minggu depan anak2 juga mulai masuk sekolah musik. saya sudah mulai mengenal jalan2 di kota ini. kami sudah mulai kerasan dan menyatu dengan rumah baru. saya sudah tidak takut lagi ke basement malam2 sendirian. saya sudah berani ditinggal si babeh kerja seharian. perasaan2 horror yang selama ini menghantui pikiran gila ini, sudah mulai terobati dengan hangatnya tetangga2 menyambut kami sekeluarga ke lingkungan mereka. apalagi tetangga sebelah rumah saya adalah seorang pasangan manula yang seumur dengan orang tua saya, selalu menjadikan sosok orang tua bagi kami. “kalau mau pinjam semua alat tukang atau pinjam alat2 dapur, sok jangan malu-malu ya…gedor sajah pintu rumah!”. si babeh memandang saya dengan mata kinclong. nukang adalah pekerjaan favoritnya dari jaman dulu sampe sekarang. apalagi matanya makin berbinar2 ketika melihat tools si kakek sebelah yang lengkap dan canggih.

apapun yang telah didapat, walaupun dalam bentuk dan wujud yang jauh dari impian, saya syukuri dengan sepenuh hati. alhasil, semuanya akan terasa nikmat dan damai dihati.

ini cerita nggak nyambung, weekend kemarin kami pergi ke rib festival di mississauga (kota tempat tinggal kami sebelumnya). tahun lalu kami ketinggalan kereta, tahun ini karena penasaran jauh2 dibela2in datang. sayangnya sampai disana, semua kedai menjual babi. ternyata ribs babi paling enak katanya. pakai dilumuri saus bbq merah yang pastinya yummy banget. hiks. akhirnya, satu2nya kedai yang bisa kami nikmati adalah butterfly fries dan blooming onion, dimana mereka menyajikan sebuah bawang bombay yang dibentuk sedemikian rupa hingga kalau di goreng bisa mekar seperti bunga. indah sekali sampai tidak tega untuk memakannya. lagi-lagi, sedang ditengah2 antrian, hujan turun. tapi saya nggak mau rugi, tetap berdiri tegak di antrean. demi seporsi butterfly fries dan blomming onions………(mm..maap, ga sempat dipoto berhubung sudah keburu keroncongan perutnya!).


antrian panjaaaaaaaaang.

my latest blooming pouch – july2008. check it out here.

credit : animated by ais – copyright july 2008.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

§ 5 Responses to Suatu pagi di beranda…

  • sikiky says:

    mungkin hal ini juga yang bikin gue masih bertahan di komplek sekarnag (biar kemaren sempat kebanjiran)
    anak2xnya masih kejar2xan naik sepeda, main bulutangkis di jalanan depan termasuk futsal (ya…modifikasi dikit lah).
    tinggal dinaikin aja tuh rumah semeter lagi…:))

  • inot says:

    hai si.. apa kabare ? sama si, rumah kami jg tua, miring juga. tp kami cinta banged ama rumah ini. krn kl gak miring, kita gak sanggup bayar rumah. jd ya disyukuri banged. tetangga jg puenting, kl tetangganya gelo, mana bisa hidup tenang. dan anak bsia main di kebon. si, oktober ini kita mo ke NY seminggu. blanja dimana yah.. aku suka loh ama baju jaitan yg go green itu. keren loh. kayaknya kl nienke pake, jadi cantik. kekeke. tas ijonyg jg keren. mahal ya si? hehehe..no tel. rumah apa sama kayak yg dulu ?

  • yoki says:

    Kacamata anak emang see differently, blooming onionnya di kasih pigura ajah klo sayang mah 😀

  • caroline says:

    buset antriannya sampe nyebrang jalanan. emang enak banget yah blooming onionnya sampe meng inspire bikin blooming pouch? hehehe.

    btw, kadang apa yang menurut kita sederhana justru jadi hal yang terindah buat anak2 yah? mengharukan banget…

  • Mutia says:

    Bagus2 banget hasil foto2 mba.talented.aq jg di ndeso rumahnya,tp enak akrap ma tetangga.aq aja kurang gaul sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Suatu pagi di beranda… at My Life Abroad.

meta

%d bloggers like this: