Miracles Do Happen

June 1, 2006 § Leave a comment

Sebenarnya, hidup di luar negri dengan tanggungjawab seperti aku sangatlah sulit. Dulu sewaktu aku pertama kali datang kesini, benar2 tidak ada pilihan, tidak ada tujuan apa yang akan diperbuat 5 tahun kedepan. Aku benar2 tidak ada bayangan bahwa hidup itu serius. Kita berdua kawin usia muda, langsung punya anak pula! Hanya mikir kita bakal bersenang2 karena tidak ada lagi kontrol dari ortu, yang selama masa lajangku mereka benar2 curigaan melulu. Alhamdulillah semua berjalan mulus. Padahal, dulu sempat heran, kenapa sih orang2 sangat berat & berpikir panjaaaaaang mirip kereta api, untuk memutuskan kawin, padahal udah jelas2 sama pacar pilihan sendiri, bukan hasil comblangan ortu atau blind date . Pertimbangannya banyak. Terutama soal materi yang blm siap.

Emang kita berdua dari dulu terkenal pasangan gila. Sampe sama dosen dipanggil si sendok dan si garpu. Kalo si bu dosen ngeliat aku sorangan wae, dia nanya, “Mana garpu?…tumben…”.

Memutuskan kawin langsung setelah lulus kuliah juga dibilang muda kl dibanding anak2 jaman era begini. Sampe2 dulu kita harus bertempur melawan ocehan2 sodara dari pihak suami yang bersukubangsa minang. Titik pokoknya karena dia anak bontot yang harus melangkahi 2 kakaknya yang waktu itu blm menikah. Walau akhirnya abangnya terpaksa dinikahkan supaya beban berkurang satu. Sungguh rintangan yang tidak mudah buatku. Tapi untungnya aku orang yang “tahan banting”, tidak mudah untuk menyerah. Kalau Tuhan merestui, kenapa manusia tidak? Itu kan jodoh…yang menentukan hanya Tuhan. Aku pasrah & selalu berdo’a, “Ya Allah, kalau emang dia adalah jodohku, jangan beri kami rintangan, kalau bukan jodohku, mohon dijauhkan segera dengan cara apapun”. Titik. Disamping itu, banyak yang beranggapan kita nih nekad bgt, wong cuma modal dengkul berani kawin. Pede banget ya kalo dipikir2.

Begitu anakku lahir tahun 1998, alhamdulillah rejeki ngalir terus walaupun suasana lagi krismon. Aku percaya banget, di hati yang paling dalam yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong kami. Bayangin, status suami sbg pegawai negri baru, fresh graduate, golongan 3A, di Istana Kepresidenan lagi jaman Pak Harto pula, kok ya bisa aja mencukupi kebutuhan keluarga & masih sempat berhura2 juga. Lucky us, ada aja dapat proyek bikin desain atau borongan rumah tinggal dari si A atau B. Herannya, kalau belum perlu duit, proyek kosong. Tapi kalau lagi mikir buat biaya RumahSakit nanti, kayaknya Tuhan memberikan jalan. Kayak udah diatur, proyek A buat rumahsakit, proyek B buat beli mobil, proyek C buat jalan2.

Kedatangan kami ke sini itu berkat salah satu proyek juga. Padahal kita waktu itu cuma berandai2, gimana ya kalo kita sekolah kesini, musti punya biaya berapa ya?????, enak kali ya…sekeluarga ke Amerika…kita hidup disana…anak2 bisa sekolah disana juga…Ah, seandainya Papa masih ada (kalo kata hubby gitu), pasti paling engga dibantu lah….. Benar2 lho, waktu itu ngga ngebayangin bakal kesini. Kalau ngga ada miracle kayaknya ngga mungkin terjadi.

Ngga beberapa lama setelahnya, datang proyek D yang membuka jalan semuanya. Salah satu sahabat kami yang lagi ambil master di LA, memberi support kepada kami. Bahwa sekolah di Amerika ternyata tidak sesulit yang kita bayangkan. Entah kenapa, uang hasil proyek D bisa sesuai dengan yang kita perlukan saat itu. Paling enggak punya modal buat bayar sekolah, akomodasi dan transportasi untuk satu tahun pertama. Sepertinya semua sudah diatur….Subhanallah. Semua urusan alhamdulillah lancar dan tanpa halangan. Visa yang katanya sulit, langsung di cap saat itu juga tanpa penuh pertimbangan.

Terus terang, aku ini bukan orang yang rajin beribadah. Aku jalani kalau aku bisa. Bukan orang yang bela2in pulang kerumah kalau waktu shalat tiba. Tapi aku berusaha menjadi manusia yang baik. Menjauhi sifat2 yang dilarang agama. Atau paling tidak, insya allah ngga pernah lupa sama yg namanya beramal.

Aku berusaha mensyukuri nikmat yang diberikan Allah padaku. Dari kecil, jaman SD, kalau orang nanya, “Kamu nanti besar bercita2 jadi apa?”. Aku selalu dengan yakinnya jawab, “Arsitek!”. Bayangan pengen bangun rumah, bikin gambar desain & mangkal di proyek seperti Papa jadi angan2ku. Aku yang dari dulu kelihatan berbakat dibidang gambar menggambar, banyak dapat didikan dari Papa.
Setiap aku memikirkan sesuatu, menginginkan sesuatu spt kepengen hidup di luar negri nanti, kok ya alhamdulillah kesampean gitu. Aku kepingin punya anak yang nurut2, yang baik, yang pintar….dikasih eh dititipi anak2 yang nurut2 sesuai pesanan. Baru kepikir kepingin hamil, bbrp lama kmd mendapati diri ini hamil. Kepikir kepingin beli mobil SUV biar anak2 tidak bersempit2 ria spt sebelumnya, tau2 kayak didengar gitu, kok mobilku yang Camry bisa dihargai tinggi ngga masuk akal, tinggal nambah sedikit buat bisa beli SUV. Padahal dari segi materi, kami orang yg pas2an. Hidup cukup2an aja. Ngga muluk2 dan bukan branded people. Bukan juga orang yang gengsian, biar lapar tidak apa2 asal tas merk Gucci….ih, jauh deh. So not me! Kalau ada yang murah, kenapa harus yg mahal. Kecuali kalau sesuatu yg sangat diperlukan, itu ga papa.

Kadang2 aku kalau ngebayangin ngerinya, kenapa ini?. Apakah krn Tuhan sayang sama aku, atau cobaan akan datang sekaligus bertubi2 dikemudian hari? (ih…ketok2…amit2 jangan sampai deh, astaghfirullah). Tapi sumpah ini pikiran yang mengganggu aku saat ini. Tapi aku selalu menghibur diri, harus yakin kalau Tuhan pada dasarnya ingin umatNya bahagia, tapi melalui jalan yang berbeda2. Apa mungkin aja karena kecuekkan aku, hingga tidak menggubris sesuatu yang sebenarnya adalah “cobaan Tuhan”?

Terus terang, sampai saat ini, kita belum mulai untuk memanage keuangan untuk kuliah anak2. Di Indonesia kan santer tuh, berlomba2 bikin tabungan pendidikan whatsoever….. Aku bukan tipe orang yang suka planning, kalau emang ada jalan, ya dilakoni. Kalau engga, ya ngga maksa. Mama-Papa yang dulu planning ngumpulin tanah disana sini buat kami kuliah di luar negri dan modal hidup kami kelak, toh akhirnya harus ludes buat nombokkin hutang perusahaan Papa yang sempet koleps, alhamdulillah lulus kuliah juga sih, walaupun hanya di Indonesia. Makanya, sejak peristiwa itu, mama pun mendapat hikmahnya. Ternyata usaha manusia kalau tidak diridhoi akan menjadi nihil. Sampai skr beliau wanti2 aku, supaya tetap ingat sama Yang Diatas.
Bukan mau menentang kodrat & takabur, tapi aku percaya, kalau semua rencana yang sudah matang sekalipun bisa gagal kalau Tuhan tidak menghendaki. Mendapat asuransi jiwa & kesehatan, 401K & pensiun dari perusahaan saja sudah cukup bisa membuat diriku tenang, so far.

Tugas aku yang utama sekarang, membangun mental dan fisik anak2 supaya mereka semua nanti matang untuk menghadapi ganasnya dunia luar. Hal ini tidak aku dapati dari ortu. Mereka dari dulu membuai kami dengan harta. Memanjakan kami yang ternyata malah merusak mental sedikit demi sedikit. Kalau semua berjalan mulus, mungkin tidak apa2. Kalau ditengah jalan terhempas badai tsunami, kan jadi terpukul & buntut2nya adanya penyesalan. Untung, aku kala itu sudah dewasa, sudah hampir lulus kuliah dan menikah, kalau adikku, dia sangat terpukul. Tak habis2nya dia menyalahi orangtua atas kegagalan mereka. Bahkan parahnya, beliau yang dulunya penggembira dan pintar, harus meratapi sisa hidupnya dengan penyesalan & menghukum orang tua dengan cara mogok kuliah. Itulah karena kami kurang dibekali mental yang tough dari kecil, tidak dibiasakan hidup irit & seperlunya, memang namanya ortu kan inginnya anak2 senang, tapi tidak sadar kalau hal ini malah merusak.

Berdasarkan pengalaman hidup, dari kecil anak2 kami aku latih untuk hidup keras, dalam artian tidak ada istilah harus diladeni seperti raja. Minta beliin sesuatu harus ada dasarnya, penting atau enggak. Kalau tidak penting, dahulukan yang penting dulu. Emang mrk sering ngambek, tapi aku komitmen, kalau nanti Momi & Dadi ngga ada, kamu tidak sakit hati kl yang dimauin ngga kesampean. Kalau untuk kursus ini itu, atau beli keperluan sehari2 pasti aku kasih. Tapi kalau untuk sesuatu yg sifatnya keriaan…absolutely nope. Aku banyak belajar mendidik anak dari orangtua angkat ku yg org amerika, mereka berdua dokter spesialis, kurang kaya apa coba. Tapi tetap anak2 mereka tidak dimanja tapi malah diajari kerja keras. Kalau ingin sesuatu harus earn something. Misalnya, kalau anaknya minta uang jajan, harus cuci mobil atau piring. Trus nanti mereka dikasih jatah untuk kuliah sekian, kalau kurang ya cari sendiri. Itupun udah bagus, biasanya orang sini tidak mau membiayai anaknya kuliah. Mereka harus cari pinjaman (loan) yang nanti bisa dibayar setelah mereka bekerja.

Mama kadang2 suka protes, “Kamu ngga adil, dulu kamu enak hidupnya, apa2 dikasih, minta apa aja tinggal ngomong, kenapa anak2 mu harus disiksa begini sih?”. Hhh…..tersungging juga hati ini, tapi aku yang mengalami, bukan beliau. Mengalami betapa sulitnya kami berdua terjun kedunia sendiri dengan modal “mantan anak manja”. Tanpa bantuan siapa2. Sulit sekali…terutama mental. Sempet stress juga. Benar2 seperti menyelam di lautan lepas tanpa diving buddy, kalau kehabisan oksigen ya megap2 sendiri.

Materi, segala yang bersifat duniawi, sangat tidak ada apa-apanya. Semua tergantung kuasa Allah. Justru, yang penting, mental & iman anak2 kita yang harus diisi & diperkuat supaya mereka tidak cepat putus asa & tahan banting. Dunia ini kezam, kawan…..jangan sampe anak2 kita salah asuhan, nanti gampang terpengaruh.
Aku selalu wanti2 anak2, jangan memandang sesuatu keatas, tapi lihat kebawah. Kita ini hanya manusia yang kecil, ngga perlu menyombongkan diri. Walaupun suatu hari kalian jadi orang yg sukses. Harus ingat yang dibawah. Karena yang boleh sombong hanya Tuhan, hanya Beliau yang berkuasa….di dunia & akherat……

Tinggal dan membangun keluarga di luar negri tanpa bantuan siapa2, memang membuatku menjadi orang yang jadi kurang peduli sekitar. Pada dasarnya aku senang berteman, senang bersosialisasi, tapi keadaan lingkungan rumahku yang saling cuek menjadikan aku malas untuk berbasa-basi, kok kayaknya buang2 waktu banget. Kata Mama, aku skr berubah. Aku lebih perhitungan dan tidak terlalu ramah seperti dulu. Terutama di lingkungan rumah. Kalau sama orang Indo sih tetep aja masih doyan hangout bareng. Karena sama2 tinggal disini, mungkin kita juga sudah sama2 mengerti akan kondisi masing2. Yang paling suka protes adalah Mama. Tapi yaa…beliau ngga bisa protes. Coba merasakan sendiri hidup seperti aku, dinegara orang pula. Mau ngga mau memang menuntut orang untuk begitu.

Yah..sampai detik ini. Aku sangat percaya. Bahwa miracles do happen. Kita ngga tau kapan, dimana dan terjadi pada siapa. Apapun rencana manusia, hanya Tuhan yang tahu skenarionya………..

*untuk adikku tercinta : Sila*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Miracles Do Happen at My Life Abroad.

meta

%d bloggers like this: