Kenangan tentang Bantul….

May 28, 2006 § Leave a comment

Hari Sabtu seperti biasa, adalah hari keluarga buat kami. Hubby kan libur, ditambah Aiz juga udah libur panjang kenaikkan kelas (summer) sampai Agustus. Apalagi kalau bukan ke kebun binatang (as usual..hhhh). Selain demi menghibur Aidan yg lagi doyan2nya binatang, juga krn kita mau jenguk “sodara jauh”, hehe..

Biasanya, hari Sabtu aku sempatkan telepon ke ortu di Jakarta, sekedar basa basi lah..berhaha-hihi sekejap tanya kabar disana gimana. Entah kenapa hari itu aku malas mau telepon, agak bosan juga sih yang diomongin itu-itu aja & belum ada obrolan baru buat digossipin. Kapan2 aja lah….

Pulang dari “family rendezvous” di Dallas Zoo, kita berleha2 dulu di ruang TV, nonton film DVD “High School Musical” yang baru dibeli tadi siang. Jam 11 malam satu persatu dah mulai KO, tinggal aku sorangan wae. Yasutralah, telepon rumah Jakarta aja lah. See what’s going on.
Ternyata Papa yg angkat. Beliau cerita bhw di Yogya terkena gempa tektonik Sabtu pagi dan menelan korban 3000 orang!
*Langsung deg2an aku*.

Masalahnya, bokap orang Yogya, lahir dan besar di Yogya, turun temurun dari kakek moyang itu asli Yogya. Karena beliau harus masuk ITB jadi dia hijrah ke Bandung dan kemudian kerja & membangun hidup di Jakarta.
Hampir sebagian besar sepupu2 aku masih tinggal disana. Dan yang lebih membuat aku gemetaran, katanya korban terbesar terjadi di Kabupaten Bantul…..Ya Tuhan…..itu tempat sepupu2ku tinggal…..! Merinding bulu kudukku.

Papa bilang, bliau berkali2 mencoba menghubungi mereka, tapi sampai saat ini belum ada jawaban. HP mereka out of service semua. Kebetulan salah satu keluarga kami ada yg tinggal di Kalasan, cukup jauh dari lokasi gempa. Si Bude Kalasan bilang kalau dia sekeluarga untungnya tidak apa2. Malah ngga terlalu merasakan gempa yg dasyat. Tapi beliau juga belum mendapat kabar dari keluarga Bantul.

Bantul adalah sebuah kabupaten di pinggiran selatan Yogya, dekat sekali dengan kali progo (kulon progo) yang bermuara ke laut selatan, tidak jauh dari situ. Kadang Papa ngajak kita liat2 pantai. Yap…pernah denger cerita Nyai Roro Kidul? Itulah pantai Selatan, yang katanya ngga boleh berenang pake baju warna hijo. Katanya, karena Nyai suka warna tersebut, takutnya nanti “dibawa pergi”. Yang paling aku ingat di kepala adalah pantai Samas nan butek. Pokoknya ngga layak disamakan dengan Pantai Kuta. Boro2 mikir mau berenang, nyelupin kaki aja males. Tapi, desa di pantai Samas, dulu sering ada pagelaran wayang kulit. Penduduk disana seneng kumpul rame2 selain buat nonton wayang juga berhahahihi satu sama lain. Biasanya pasar malam juga digelar, demi memeriahkan acara.

Aku ingat, dulu kalau ke Bantul, kerumah mbak yune Papa (Bude alm), aku selalu diladeni seperti ratu. Keluarga kami yang memang dari dulu tinggal di Jakarta, selalu dianggap seperti dewa oleh tetangga2 di kampung sekitar. Yah, namanya jaman dulu banget, kira2 awal th 80-an, dimana Jakarta masih kontras kalau dibanding dengan daerah pelosok Jawa seperti daerah Bantul ini. Mana ada penduduk sana yang punya mobil. Kalau kami datang, semua mata menyorot ke mobil kami seperti melihat UFO datang. Kalaupun punya duit ya belinya motor bebek, itu juga masih langka sekali. Orang2 banyakkan pake sepeda jengki. Nggak tua atau muda, sepeda merupakan transportasi favorit ; irit dan sehat. Bude Tut Alm. adalah seorang bidan yang cukup dikenal oleh masyarakat. Orangnya ulet, kalem & ngga pernah marah. Anak2nya pun begitu semua. Bener2 berwatak “wong Yogyo” asli yang kalem & klemar klemer (sori kalo ada yg tersinggung, aku bilang bgini karena memang orang sono). Aku seneng kalau liburan kesana, karena mereka ramah2 & nganggep aku “adek” sekali. Maklum Papa tuh paling kecil jadi sepupu2 ku ya udah pada gede2. Anak2 tetangga juga pada nurut kalau disuruh menemani aku main di halaman. Aku dulu masih anak semata wayang. Jadi selalu mendambakan punya teman bermain. Semenjak adikku lahir ketika aku hampir 7 th, kita sudah mulai jarang kesana. Kalaupun kesana paling cuma mampir sehari buat berlebaran aja. Tapi sudah tidak sesering sebelumnya yang setahun bisa 2x kesana.
Salah satu desa di Bantul ; desa Mangiran, adalah disebut2kan sebagai “cagar budaya”, karena disana masih banyak terdapat rumah2 asli yang belum tersentuh oleh modernisasi. Rumah2 penduduk yang rapat2 tapi teratur, yang kala itu seingat aku kelihatan asri & damai, jauh dari hiruk pikuk kota. Penduduknya yang terkenal ramah tamah, membuat Yogya adalah obyek wisata yang digemari oleh orang asing, sampai sekarang. Dalam setahun, 9 juta turis asing datang ke Yogya.
Malang, desa Mangiran saat ini harus menangis, rata dengan tanah…..tidak ada lagi rumah2 tradisional atau suasana yang asri. Tidak ada lagi pakeliran wayang kulit dan pasar malam di desa Pantai Samas. Semua harus menelan kenyataan, bahwa Tuhan sedang menguji. Allahuakbar.

Keluarga Papa sendiri sebenernya bukan asal Bantul. Mereka dari kota Yogya nya. Mbah kakung alm. masa2 terakhir hidupnya tinggal di Sleman, daerah2 Kalasan sana lah. Di rumah beliau, tinggal sepupuku & keluarganya (anak pakde-ku). Bude Tut dulu hijrah ke Bantul karena profesinya sebagai bidan mengharuskan beliau harus mengabdi & menetap disana. Sampai akhir hayat, beliau tetap cinta Bantul. Bude meninggal karena kecelakaan sepeda motor hampir 20 th yl, dan dimakamkan di tanah pemakaman keluarga tidak jauh dari rumah beliau.

Karena berita ini, aku jadi terngiang2 wajah2 kakak2 sepupuku. Cuma anak2 dari Bude Tut yang kata orang2 mirip & setipe sama aku. Mata sipit & kalo ketawa makin menghilang itu yang menjadi trademark kami. Kalau malu, gayanya nyengir, plewah pleweh kalo kata org sono. Alis mata dan rambut tebal2 dan mirip ijuk. Tipe manusia berbulu….kalo ini mirip……..(??).
Ingat jaman aku masih kecil dulu, aku selalu dimomong oleh mereka kalau kita ke Bantul. Terakhir, kira2 th 2001, salah satu sepupuku mbak Mien pernah mengirimkan video beliau waktu pentas gamelan & tari2an Jawa di Jepang. Mbak Mien memang hidup sebagai duta kesenian yang sering melancong ke luar negri. Tapi walaupun sudah sibuk, beliau tetap cinta & susah lepas sama tanah kelahirannya, Bantul. Hiks…..semoga Mbak Mien & Mas Katri ku sekeluarga selamat dari bencana dan sudah diungsikan ke suatu tempat. Karena keadaan jalan yang porak poranda, tidak mungkin lah mereka keluar dari lokasi bencana dalam beberapa hari bahkan mungkin minggu. HP juga tidak ada sinyal. Kita benar2 tidak bisa berbuat apa2 selain berdoa dan menunggu berita.

Ya Allah, lindungi keluarga kami disana. Kalaupun sesuatu menimpa mereka, jangan biarkan mereka lenyap begitu saja tanpa kabar.
Berikan mereka semua yang terkena bencana kekuatan lahir dan batin. Amin..amin…yarobbal alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kenangan tentang Bantul…. at My Life Abroad.

meta

%d bloggers like this: