balada pulang ke kampung halaman

May 23, 2006 § Leave a comment

Enam tahun lamanya aku ngga pernah balik ke Indonesia. Dulu th 2001 kepingin pulang, eee…terhambat gara2 ada peristiwa tragis nine-eleven. Suasana jadi genting dan rasa waswas takut ngga kebagian jatah US visa makin menjadi-jadi. Apalagi diisukan kalau laki-laki dewasa diatas 18 tahun bakalan harus menunggu 3 bulan lamanya hanya untuk mendapatkan stampel visa. Pernah ada teman yang waktu itu berada di Jakarta pas peristiwa menggemparkan tsb, alhasil, belio harus menunggu selama 3 bulan lamanya di Jakarta tanpa kepastian. Padahal kan harus kerja, mana ada perusahaan yang mau membayar cuti pegawe selama 3 bulan?
Untungnya, perusahaan tempat belio bekerja sangatlah baik hati, mereka menawarkan untuk cuti panjang tapi tidak mendapat gaji. Yah, daripada daripada kan mendingan mendingan.., dia cari selamet deh, lebih baik begitu daripada kena lay-off gara2 urusan beginian. Tunggu punya tunggu, akhirnya dapet juga lah visa. Tapi kan, selama 2 bulan lebih unpaid vacation terpaksa harus nguprek2 duit tabungan untuk bayar apartemen dan bill2 yang selama itu “menunggu” disini. Dollar pula! Wah..beratnya….

Jadi waktu itu kami mengurungkan niat untuk berhahahihi sama saudara dan teman2 di Jakarta. Demi kebaikan juga. Kita kan ngga bisa memprediksi sampai kapan situasi ini berjalan lama.
Tak disangka tak dinyana. Disaat saat genting begini, tau2 aku mendapatkan diriku tekdung dua bulan. Olala…ni gimana sih? Jangan2 peristiwa nine-eleven tersebut merupakan peringatan dari Tuhan supaya jangan pergi2 jauh dulu. Aku dulu hamil anak pertama kan bermasalah, sering flek lah, pake acara diopname di RS & bedrest sampe 16 minggu kehamilan.

Antara excited sama kaget. Siapa yang ngga seneng selama 4 tahun hati ini bimbang antara mau nambah anak ato engga, tiba2 jawabannya sudah diperut! Memang kita ngga berencana punya anak ke-2 dulu, hubby kan waktu itu masih kuliah. Kerjaan juga belum becus. Masih part-time sana sini. Sempet juga jadi joki delivery Pizza biar asap dapur terus ngepul. Seminggu 2 kali kerja di lab komputer kampus, jadi lab assistant. Dapetnya ya ngga seberapa. Mending2 deh daripada ngga ada sama sekali. Maklum masih sekolah kan allowance juga basa basi doang, habis sama keperluan tuition yang manatahan mahalnya. Jadi, bayangkan saja, gimana rasanya mendapati diri sendiri tekdung dikala susah gitu? Boro-boro mikir beli rumah, bisa nabung aja udah sukur alhamdulillah, jadi bisa bayar hutang kartu kredit yg diperlukan untuk keperluan sekolah. Yup…lagi2 buat sekolah..lah..lah.

Tapi aku ngga mau terus menerus menyesali hidup. Kita kan ngga boleh menyesali dengan apa yang telah diberikanNya. Aku selalu terngiang2 akan wejangan orang tua yang ngga cuma sekali aku denger. “Semua itu ada berkahnya, nduk..pasrahken saja sama Gusti Allah, rejeki sih udah dijatah. Mbok ya kamu mau jungkir balik ngga karu2an, kalo bukan milik sih nda bakal nyampe…”, begitu kata Mama. Sampai detik ini pun, aku selalu menerapkan falsafah tsb dalam kehidupan kami. Untungnya, hubby juga punya pikiran yang sejalan. Kita wajib mensyukuri apa yang diberikan. Bener lho, kalau kita ikhlas menjalani hidup, semua akan terasa nikmat. Aku pikir, masih banyak pasangan2 yang kurang beruntung & susah mendapatkan keturunan. Kenapa juga aku hrs menyesali padahal ini kan artinya Allah percaya sama kita berdua untuk mendidik dan membesarkan anak-anak. Udah kewajiban kita lah gimana caranya supaya anak2 mendapatkan apa yg terbaik bagi mereka.

Allahuakbar. Sejalan dengan kehamilan ku ini, perlahan2 ekonomi keluarga membaik. Hubby cukup dipercaya untuk ditempatkan sebagai manajer dengan gaji yang lumayan. Asuransi bisa di klaim dari perusahaan dan sekolah. Juga, karena masih berstatus sebagai pelajar, kita mendapatkan keringanan dari rumah sakit untuk bisa bayar persalinan secara bertahap. Karena riwayat persalinan anak pertama, aku terpaksa melahirkan dengan cara di sesar lagi. Waktu itu, aku direncanakan melahirkan tanggal 20 Mei 2002, tapi karena operasi, dokter menganjurkan untuk mempercepat 2 minggu.
“Tanggal 3 Mei aja deh Doc….itu anniversary kita. Jadi maksudnya biar barengan….!”
Si Dokter bilang, tanggal 6 aja, sesuai rencana H-2 minggu.
“Tapi tanggal itu suami saya di wisuda tuh…..gimana? apa tanggal 7 nya aja?”
“Wah..bu…tanggal 7 saya yang harus keluar kota. Yasudahlah…tanggal 3 juga gpp”.
Ini jual beli barang apa mo ngelahirin anak sih? hehehe…….jaman sekarang, dimana alat2 kedokteran sudah canggih. Anak bisa dideteksi dengan sonogram. Tanggal lahir bisa tawar menawar….hahahaha…..geli juga aku waktu itu!
Akhirnya, Adel lahir tepat tanggal 3 Mei 2002, berbarengan dengan anniversary Momi-Dadi nya.
Ya..sejalan dengan bertambahnya umur Adel, ketika dia 4 bulan, suami mendapatkan promosi untuk bisa masuk ke corporate office di Dallas. Tapi waktu itu, walaupun udah di wisuda, belio masih harus menyelesaikan thesis 1 semester lagi. Gpp lah…sambil jalan. Tuhan maha pemberi, ingat kata orang2 tua dulu, tiap2 anak membawa rejeki. Itu semua rahasia Allah, cuma Beliau yang tau jalan hidup kita. Begitu kata Mama. (*Ma, pa…I miss you both!*).

*****

Sampai akhirnya 5 tahun dari rencana pulang yang silam, kita tetep aja mendekam disini. Malah makin males kalo mikir mau pulang. Gimana enggak, 2 tahun setelah Adel lahir, anak ke 3 lahir. Sekarang, kalo pulang, musti siap lahir batin. Terus terang aku pribadi belum siap. Hubby juga begitu. Mikirnya panjang seperti meteran. Ni otak udah mikir yang jauh2 aja deh. Padahal aku terkenal dengan cuek bebek nya. “Cewek koboi” kalo kata hubby jaman masih pacaran dulu. Untungnya (dasar jawir), orang tua kami cukup sering bertandang mengunjungi cucu2nya disini. Mumpung mereka masih sehat & kuat untuk berjalan jauh. Aku sih seneng2 aja, artinya, urusan dapur bisa teratasi (hihihi). Jadi rasa kangen kepengen pulang agak terobati sedikit.

Biaya, yang keliatannya “ah…bisa diatur laaaah, dari tax return aja juga bisa”, ternyata ngga sedikit. Kita baru membuka mata setelah salah satu teman kami disini yang rencana mudik berlima (anaknya 3 org juga) summer ini, habis duit $6000 just for the airplane tickets! Eh…edun euy. Belum lagi plus-plus nya seperti oleh2, uang saku, pengeluaran selama di indonesia, biaya tak terduga, bayar housing & bill di sini (tetep aja walopun penghuninya ngga ada). Walah….sayang amat. Mendingan buat bayar rumah kali yee…

Trus, masalah sakit perut. Ngga tau kenapa ya, teman2 yang mudik bawa anak2nya hampir 100% anaknya kena muntaber disana. Walaupun makan udah diatur2 supaya adaptasi dulu engga jajan selama seminggu, tetep aja. Bahkan ngga sedikit dari mereka yang sempet panas tinggi akibat diare dan dirawat di RS beberapa hari. Mati ane. Anak kita kan ada 3, kalo semua terkapar tak berdaya gini, musti bijimana nih….nangis bombay deh ane!!!

Masalah visa juga jadi pemikiran. Denger2, kalau buat appointment di embassy Jakarta, bener2 makan ati. Hubby kan masih pake temporary work permit, jadi tetep harus ngeplai visa baru disana. Konon, kl dari 2001 blm pernah pulang, bakalan lama krn hrs melalui prosedur FBI clearance yang dulunya pernah antre sampai 2-3 bulan. Naaaah, kalo udah begini, bakalan manyun deh entar. Terpaksa mengais2 kesana kemari demi bayar bulanan yang disini. Duh….berat deh. Mending tunggu aja lah sampai keluar kartu ijo, jadi semua prosedur gampang ngga berbelit2. Resek emang kl kita di amrik, kendalanya ngga lain cuma seputar visa..visa & visa. Mmmm…kartu ijo? artinya………..berapa tahun lagi kita baru bisa bermudik2 ria ke Jakarta yaaaa????? (*sambil garuk2 kepala*).

Ah…what the heck!.
Buah mangga buah pepaya, jangan memble lha yaaaaaa!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading balada pulang ke kampung halaman at My Life Abroad.

meta

%d bloggers like this: