sekolah swasta vs negri

May 4, 2006 § Leave a comment

Baca blog nya Rafa, aku jadi kepikiran Aiz. Memang sistem pendidikan di Amerika boleh dibilang sudah sesuai standar. Sekolah2 public yang dikelola oleh pemerintah pun cukup oke. Negara ini sudah sangatlah maju sampai2 bisa mendanai sekolah negri 100%, artinya semua yang bersekolah disitu tidak perlu membayar sepersen pun alias gratis. Buku pelajaran pun sudah di suplai. Kita tinggal membeli perlengkapan sekolah lain spt alat tulis, kertas gambar, buku tulis, seragam, dan keperluan pribadi lainnya. Boleh dibilang, selama kita tinggal disini, aku tidak perlu pusing memikirkan biaya anak sekolah sampai mereka SMA nanti. Yang kita perlukan hanya menabung buat kuliah mereka kelak.

Aku merasakan standar pendidikan negri yg gratisan pun sudah jauh lebih perhatian ketimbang sekolah2 jaman aku di Jakarta dulu. (Mungkin sekolah di Jakarta sekarang tentunya sudah jauh lebih maju, sudah mengenal 2 bahasa dan metode pengajarannya pun sudah 2 arah).
Disini, mereka guru-guru sangat memperhatikan kemampuan anak terutama bakat terpendam yang mungkin bisa diasah dari anak tsb. Tentunya disamping menerima pelajaran pokok, murid2 juga mendapat kesempatan untuk mempelajari kesenian (music-band, choir, seni ketrampilan, drama, dll). Terus berganti2an tiap minggunya.

Aiz termasuk anak yang berprestasi disekolah. Dia mempunyai semangat yang luar biasa untuk belajar. Setiap pagi aku ngga perlu membangunkannya, dia sudah tau apa yang menjadi kewajibannya. Sampai2 kalau aku semalam begadang main internet, pagi2 susah mau bangun, Aiz lah yang mengingatkan aku kalau sudah waktunya harus pergi sekolah. Kadang2, kalau aku malam masak lebih, dia panaskan sendiri di microwave buat sarapan paginya. Sungguh aku bersyukur punya anak yang mandiri seperti dia. Bukannya aku lantas jadi keenakan, tapi paling enggak dia meringankan beban pikiran aku sedikit. Aku bisa lebih terfokus ke adik2nya yg masih kecil2.
Selain dia berprestasi dan selalu nomor satu, dia juga anak gaul kata gurunya. Jadi syukurlah dia tidak canggung dalam bersosialisasi, baik sama teman lama atau yg baru dikenalnya.

Sampai suatu hari, kami sekeluarga sedang berlibur ke Boston, disana kita punya kerabat dekat yang kebetulan orang amrik asli. Mereka sibuk sekali mempersiapkan dana jual sana sini buat keperluan sekolah anaknya yg waktu itu masih SMP. Mereka lebih sreg kalau anak ABG nya bersekolah di sekolah swasta. Udah pasti sekolah swasta yang biayanya sangat mencekik leher itu terdiri dari murid2 yang berkualitas laaah, dari segi prestasi belajar maupun bibit bobot bebet nya. Karena mereka berasal dari keluarga yang rata2 educated, akan berpengaruh positif bagi anak2 yg bersekolah disitu. Aku dulu berpikir, kenapa sih mereka ngoyo amat, kerja jempalitan siang malam demi buat bayar sekolah anaknya yg setahunnya mencapai 12 ribu dollar. Memang sih, pendidikan anak nomor satu, tapi kan, sekolah negri aja sudah lumayan bagus kok, standarnya sama, bedanya disana menang gengsi aja. Seragamnya beda, udah ketahuan dari seragamnya kalau anaknya sekolah disekolah mahal. Malah kadang2 mereka menginap di asrama segala dengan biaya tambahan yg weleh-weleh mahalnya.
Ternyata, aku menyadari memang lebih ciamik ya. Maksudnya, memang ada uang ada barang. Price don’t lie. Mereka yg bersekolah disana lebih disiplin dan berprestasi, ketimbang sekolah anakku yang udah negri, berlokasi di tengah kota pula. Bisa dibayangkan seperti apa kualitas murid2nya (krn sekolah negri ditentukan oleh rayon tempat kita tinggal). Walaupun kualitas pendidikannya sama.
Di kota besar yang jauh dari perumahan, banyak tinggal imigran2 yang entah darimana asalnya dan kadang membawa dampak yg kurang baik (maaf…bukannya menjelek2an, tapi wong aku juga imigran kok.. gitulah, kita tau tiap2 budaya punya kebiasaan2 sendiri, yg dibawa sampai 7 turunan sekalipun! yang kadang berdampak negatif bagi kepentingan umum).
Kecuali kalau sekolah negri di daerah pinggiran kota atau suburb, yang sebagian besar penduduknya adalah keluarga yg sudah settled, punya rumah tetap & pekerjaan tetap, bisa dijamin deh, kualitas muridnya pun jauh lebih baik. Memang salah nih kita milih lokasi tinggal, dulu ngga tau sih akan berdampak begitu.

Semenjak Aiz naik kelas 2, aku mulai merasakan adanya kejanggalan2 di lingkungan sekolahnya. Aiz yang masih polos & lugu selalu menceritakan apa saja yg terjadi di sekolah kepadaku. Termasuk ulah teman2nya yg rata2 tidak terkontrol dan liar. Ngilu juga aku mendengar cerita Aiz, bahwa sebagian besar teman2nya mempunyai orangtua yang sudah cerai. Mereka tinggal hanya dengan satu orang tua, dan pacarnya, atau bahkan sama adik tirinya yg (maaf) entah lahir dari hasil perkawinan atau tidak. Tapi itu benar, kenyataan pahit seperti itu banyak sekali terdapat di lingkungan sehari2 Aiz. Aku sempat pusing juga, apa ya yg dipikirkan oleh Aiz setelah tau bahwa teman2nya begitu? Mau melarikan diri dari kenyataan juga ngga semudah itu. Pindah bukanlah hal yang menyenangkan bagi anak. Juga bagi orangtuanya. Apalagi anak sudah bejibun gini, waduuuh….mati deh aku.

Lagi pusing2 gitu, tiba2 salah seorang gurunya ngojog2 aku agar memikirkan Aiz untuk bersekolah di sekolah swasta. Rugi katanya kalau anak sepintar Aiz harus terpaksa “mundur” gara-gara menunggu teman2nya yang kebanyakkan tidak ditunjang oleh lingkungan keluarganya. Maksudnya, karena kondisi & situasi keluarga yg kacau, menjadikan anak2 yg malas untuk belajar. Ibu mereka mungkin sibuk bekerja demi memenuhi kebutuhan anak2nya. Ayahnya entah dimana. Aku melihat dengan mata kepala sendiri, betapa liarnya mereka terhadap gurunya. Seperti tidak pernah diajari sopan santun. Gurunya Aiz pernah bilang, ada beberapa murid yg sempat di suspend (diskors) gara2 keterlaluan nakalnya. Bahkan ada satu anak yg di terminated, diminta mengundurkan diri. Wah..gawat.
Guru yg ngojog2 aku tsb menyarankan aku agar mencoba mendaftarkan Aiz ke GREENHILL SCHOOL, salah satu sekolah yang ngetop di Dallas. Ngetop segala2 deh, ya prestasinya, art nya, olahraganya, bangunannya yg bagus, MAHALNYA……..rrrggghhh..
Wah, mana ada dana aku buat menyekolahkan Aiz disana? Kan dia bukan anak semata wayang…masih ada adik2nya yg harus dipikirkan juga. Bayangin aja, setahun aku kudu keluar duit 14 ribu dollar, belum termasuk uang buku, kantin, asuransi, seragam, tetek bengek nya……MY GOOOOOD!!!!!
“ah, bu…jangan kuciwa dulu, karena Aiz pinter, coba aja mengajukan beasiswa. saya dengar Greenhill memberikan santunan dana sampai 100% buat yg berkualitas tapi ngga mampu bayar”. Iseng2 aku mendaftarkan dia kesana. Sudah ada kemajuan, paling tidak sudah ada panggilan untuk tes yg katanya susah. Dari hasil tes, Aiz sudah memenuhi kriteria, tapi masih harus diseleksi dengan peserta beasiswa lainnya. Mungkin karena dananya terbatas, jadi mereka harus benar2 selektif. Waaaaah……kasihan Aiz. Padahal dia kepingin banget masuk sana, sekolahnya bagus, playground nya hi-tek, kegiatannya banyak, deket dari rumah pula…cuma 5 menit naik mobil. Sayang sih mahal minta maap. Kalau suatu hari Mominya kerja lagi, Insya Allah bisa diusahakan.
Tuh…kan Momi. Makanya jangan suka ngatain orang…kemakan omongan sendiri deh. Ternyata memasukkan anak ke sekolah swasta bukan karena gengsi aja lagi…karena emang kualitas. Coba kalo aku ngga pernah memperhatikan ulah teman2 sekelasnya, pasti aku ngga akan terpikir buat menyekolahkan Aiz di sekolah swasta seperti Greenhill. Doakan ya, agar Aiz keterima. Dia tidak usah harus menunggu dan mengajari teman2nya dikelas seperti sekarang. Sehingga menjadikan dia malas karena harus mengulang2 hal yg sama. Aku selalu mendoakan dia agar mendapatkan apa yg terbaik buat dirinya….amin…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading sekolah swasta vs negri at My Life Abroad.

meta

%d bloggers like this: